Selasa, 08 Agustus 2017

Air keruhpun pernah jernih

Aliran air sungai yang berawal dari mata air kehidupan, akan terus mengalir, akan terus memberikan manfaat, dan akan terus memberikan warna disudut-sudut kehirdupan manusia, dan kiranya seperti itulah proses berjalanya kehidupan, berawal dai kemurnian, lalu dari kemurnian itu kita berbangga diri denganya, sehingga kita lupa dan akhirnya terus mengalir menuju titik yang lebih rendah, tak sedikit kotoranpun mulai merubah warna sejati kita sendiri, namun kita belum sempat menyadarinya, hingga kita terus mengalir mengikuti lorong waktu yang sangat semu, seiring berjalanya waktu, bukan lagi warna yang berubah, namun aroma kitapun mulai membusuk, disinilah titik dimana kita mulai menyadari, betapa besar kesalahan yang telah kita perbuat, yang terlanjur menumpuk tanpa sekalipun pernah kita sadari sendiri.

Air yang kita lihat sangat keruh dan bau, yang saya yakin kita takan mau untuk mendekatinya, sejatinya ia adalah air yang jernih, dia adalah H2O yang akan tetap bersih, cuma saat itu terlalu banyak kotoran yang menutupi kejernihanya, dan begitulah kita, sejahat apapun pasti masih ada nurani yang selalu menyesali setiap kelalian, kesalahan, dan kemungkaran. namun nurani kita selalu kalah dengan kekeruhan hati kita, yang terlalu banyak menumpuk kotoran ego.

Namun air tetaplah air, ia akan mudah menguap, membentuk gugusan awan, menggumpal dan akhirnya ia menjadi air yang bersih lagi. setiap manusia pernah melakukan kesalahan, sebesar apapun kesalahan itu, ia akan tetap bisa kembali bersih. Dan dari situlah perlu kita pahami, benar dan salah hanyalah soal kesempatan, karena ada mantan orang jahat, dan juga banyak mantan orang baik. Hidup ini terlalu monoton jika kita hanya menilai pada satu titik saja. 

Hidup itu perjalanan, dan dalam perjalanan pastilah banyak sekali kejadian, proses, dan fenomena yang akan merubah sedikit demi sedikit cara berfikir kita, disadari atau tidak, satu pengetahuan baru akan mewarnai cara berfikir kita. kearah mana fikiran itu akan terbawa, sangat tergantung pada lingkungan. Bagai sebuah suara yang akan merambat cepat diudara, fikiranpun akan memancarkan frekuensi yang sangat dasyat, ia akan mersonansikan apapun yang kita wujudkan dalam angan. Ia akan membentuk dunia ini dari sisi kita sendiri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar