Selasa, 08 Agustus 2017

Pelangi di tengah pupusnya harapan

Ini bukanlah tentang biasan cahaya karena bertemunya hujan dan mentari, ia hanyalah kiasan sebuah harapan yang selalu terbayang indah, membentuk warna-warna lamunan yang seolah nyata, membuat hati begitu bahagia dan fikiran begitu tenang, pelangi adalah rajutan rasa ingin yang sangat kuat, sehingga ia muncul sebagai harapan-harapan yang hampir nyata. Dari pelangi itulah semangat untuk melangkah akan timbul, bagaimanapun keadaanya kaki ini akan tetap melangkah, akan tetap menggapai sebuah cita, angan, dan harapan itu. Karena sesamar apapun pelangi, ia teteaplah sebuah keindahan yang pantas diperjuangkan.

Pelangiku muncul begitu indahnya, tak kusadari setiap warnanya telah terbentuk sempurna dihatiku, seolah ini terlalu mudah untuk ku perjuangkan, namun tetap terlalu sulit untuk kusyukuri. naluri sebagi mahklukpun hadir, dengan segenap harapanya, akupun mulai melangkah, mulai meniti langkah terjal yang mungkin saja akan melukaiku ditengah perjalanan. sampai sebuah anugrah hadir menghampiriku, pelangiku datang begitu cepatnya, begitu nyatanya, dan begitu indahnya. Ia adalah penyempurna hariku yang selalu kurang, ia adalah penghiasa malamku yang selalu suram, ia adalah setiap apa yang kusebut, setiap apa yang kukagumi, dan setiap apa yang membuatku bahagia. 

Pelangiku, aku sangat mensyukuri hadirmu, betapa tidak, kalau setiap detik kau hadirkan tawa, setiap setiap pagi kau hadirkan senyum, dan setiap hari kau hadirkan kedamaian. namun sayang, saat itu aku terlalu lemah untuk menjagamu, hari demi hari kaupun mulai terpendar, warnamu kian samar dan cahayamu kian redup. aku terus saja menghindari hujan, padahal hujanlah alasan kau hadir, aku terus saja menghindari teriknya mentari, padahal mentarilah sebab kau terlihat. saat itu aku tak tau harus berbuat apa, yang kufikirkan hanya berusaha melindungimu dari hujan, berusaha menjauhkanmu dari mentari, padahal itulah sebab kau terpendar, nyatanya hal itulah yang membuatmu hilang.

Semua kusadari justru setelah semuanya hilang, setelah aku yang seharunya menjagamu namun malah merusakmu. kini indah pelangimu hanya sebatas kenangan, dan setiap kenangan tentangmu adalah sesal yang teramat dalam. Terimakasih kau pernah hadir untuk sekedar memberiku pelajaran, bagaimana aku harus memperlakukan keindahan, dan apa arti yang sesungguhnya dari sebuah kebahagiaan.

Pupus sudah semua harapan dan cita teridahku, kini kuberjalan ditengah padang pasir yang terik, bahkan sebatas fatamorgana pun enggan menghiburku. aku terus melangkah dan mengharapkan satu tetes kesejukan, aku tak berharap banyak, hanya setetes harapan yang kunanti. namun padang gersang ini terlalu panjang untuk kulalui, sedangkan langkahku semakin lelah, semakin tak berdaya dalam menggapai asa. 

Ditengah ketidakberdayaanku, kau muncul begitu saja, membawa harapan baru dan semangat baru, meski aku takut untuk mendekatimu, namun hati dan fikiranku takan pernah bisa berbohong, kaulah yang selama ini kucari, kamulah yang selama ini kunanti dalam keputusasaan, dan kaulah yang paling pas, yang mampu hadirkan senyumku dengan kesederhanaanku. Kau adalah pelangi ditengah pupusnya harapanku, aku takan mengusik sinarmu apalagi menghalau hujan sebab kau ada. aku hanya akan menantimu dalam doa, mengharapmu dalam setiap usaha, dan mengikhlaskanmu dalam setiap waktuku. 

Kelak jika kau adalah yang terindah yang dipilihkan Sang Pencipta untuku, aku tak bisa menjajikanmu banyak hal, aku hanya bisa berjanji untuk setiap harimu, aku akan selalu berusaha menghadrikan senyum termanismu. senyum yang selalu membuatku luluh. Untukmu pelangiku, percayalah, meski aku bukanlah yang sempurna, namun aku lah orang yang akan selalu menjagamu.

Air keruhpun pernah jernih

Aliran air sungai yang berawal dari mata air kehidupan, akan terus mengalir, akan terus memberikan manfaat, dan akan terus memberikan warna disudut-sudut kehirdupan manusia, dan kiranya seperti itulah proses berjalanya kehidupan, berawal dai kemurnian, lalu dari kemurnian itu kita berbangga diri denganya, sehingga kita lupa dan akhirnya terus mengalir menuju titik yang lebih rendah, tak sedikit kotoranpun mulai merubah warna sejati kita sendiri, namun kita belum sempat menyadarinya, hingga kita terus mengalir mengikuti lorong waktu yang sangat semu, seiring berjalanya waktu, bukan lagi warna yang berubah, namun aroma kitapun mulai membusuk, disinilah titik dimana kita mulai menyadari, betapa besar kesalahan yang telah kita perbuat, yang terlanjur menumpuk tanpa sekalipun pernah kita sadari sendiri.

Air yang kita lihat sangat keruh dan bau, yang saya yakin kita takan mau untuk mendekatinya, sejatinya ia adalah air yang jernih, dia adalah H2O yang akan tetap bersih, cuma saat itu terlalu banyak kotoran yang menutupi kejernihanya, dan begitulah kita, sejahat apapun pasti masih ada nurani yang selalu menyesali setiap kelalian, kesalahan, dan kemungkaran. namun nurani kita selalu kalah dengan kekeruhan hati kita, yang terlalu banyak menumpuk kotoran ego.

Namun air tetaplah air, ia akan mudah menguap, membentuk gugusan awan, menggumpal dan akhirnya ia menjadi air yang bersih lagi. setiap manusia pernah melakukan kesalahan, sebesar apapun kesalahan itu, ia akan tetap bisa kembali bersih. Dan dari situlah perlu kita pahami, benar dan salah hanyalah soal kesempatan, karena ada mantan orang jahat, dan juga banyak mantan orang baik. Hidup ini terlalu monoton jika kita hanya menilai pada satu titik saja. 

Hidup itu perjalanan, dan dalam perjalanan pastilah banyak sekali kejadian, proses, dan fenomena yang akan merubah sedikit demi sedikit cara berfikir kita, disadari atau tidak, satu pengetahuan baru akan mewarnai cara berfikir kita. kearah mana fikiran itu akan terbawa, sangat tergantung pada lingkungan. Bagai sebuah suara yang akan merambat cepat diudara, fikiranpun akan memancarkan frekuensi yang sangat dasyat, ia akan mersonansikan apapun yang kita wujudkan dalam angan. Ia akan membentuk dunia ini dari sisi kita sendiri.

 

Kamis, 16 Maret 2017

Apa Itu Jodoh

Sebelum membaca artikel yang saya tulis, hendaknya dipahami kalau saya menulis bukan untuk dijadikan acuan. saya hanya mengungkapkan apa yang saya fikirkan tentang jodoh, itupun lepas dari pengetahuan tentang dalil atau hadist. karena saya juga tidak menguasai hadist. sekali lagi saya hanya menulis apa yang saya fikirkan dan pemikiran saya berawal dari logika dan pengetahuan. mengenai kebenaran sudah pasti hanuyalah Allah yang tahu.
JODOH
Sudah jelas dan sudah pasti kita semua tahu kalau jdodoh manusia sudah ditentukan oleh Allah sejak kita pertama kali diberi nyawa atau tepatnya pada usia 4 bulan kandungan. silahkan lebih jelasnya tanyakn kepada para ulama atau guru agama. Jodoh adalah kata yang menurut saya membingungkan, kata yang sering disalahartikan. kadang para pecundang menggunakan asas jodoh ditanggan  Allah dan sudah ditentukan maka mereka dengan seenaknya melakukan pacaran dengan tujuan hanya untuk memuaskan nassu mereka, padahal pacaran sendiri sudah dilarang, niat buruk juga sudah dilarang, apalagi berpacaran dengan niat buruk. saya bukanya melarang pacaran, meski dalam agam sudah jelas dilarang namun saya sendiri pacaran. kembali kepersoalaa, kadang pecundang berfikir kalau jodoh sudah ditentukan, di berfikir sempit sehingga dia merusak dan menodai anak orang lain. meskipun mereka tau kalau menanam keburukan akan mendapatkan keburukan, tapi mereka berdalih, “jodoh saya sudah ditentukan dengan si fulan, meskipun saya menjaga perempuan lain tapi kalau jodoh saya sudah ditentukan dengan keadaan tidak perawan, maka aku rugi karena hidup tidak bisa mendapatkan perawan, sebaliknya jika saya bejad dan mengambil keperawanan orang lain dengan alasan cinta dan bujuk rayu. namun karena jodoh saya sifulan yang kebetulan anak kyai yang tentu masih perawan kan siapa yang tau, jodoh saya sudah ada, dan saya tinggal menikati hidup dengan berpacaran sepuasnya. masalah jodoh kan sudah ditentukan.”
Coba rekan rekan pembaca fikirkan hal itu, apakah benar.jika difikir secara rasio kalau jodoh sudah ditentukan, maka asas seperti itu benar secara teori namun sangat salah jika dilakukan, karena itu perbuatan yang sangat keji. untik itu saya akan mencoba menelusuri dan mencari arti tentang jodoh supaya tidak lagi menjadi asas untuk berbuat buruk. mari kita pahami dan kaji ulang pengetahuan yang sudah kita dapat.
1. Tentu rekan tau kalau Allah maha segala – galanya, Allah bisa membuat seisi langit dan bumi. Dia bisa menghancurkan bumi, sekarang kita fikirkan. kalau Allah bisa menghancurkan bumi, tentu sangat mudah baginya untuk merubah jodoh seseorang. silahkan pahami kata – kata saya ini. jadi jangan terlalu berpatokan jodoh anda si A dan akan tetep si A. ada kemungkinan bisa menjadi C atau D.
2. Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum melainkan dia sendiri yang merubahnya. sekarang kitas pahami kata perubahan, menurut saya perubahan disebabkan bukan haya karena kita yang inginkan. contoh mudahnya, tidak ada yang menginginkan dikeroyok masa, namun karena sikap nya yang mencuri milik orang alin dan ketahuan akhirnya dia dikeroyok juga. begitu juga jodoh, meskipun Allah sudah menentukan jodoh si fulan itu dengan Si A yang notabene anak baik, muslim, dan anak dari seorang kyai misalnya, namun kelakuan dia bejad dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, maka apakah mungkin dia akan tetap menperoleh jodoh si A. ingat Allah maha Adil, Alloh pasti tahu jodoh yg terbaik untuk setiap insanya.
3. Tahukan Allah sangat membenci perceraian, terus kenapa dengan dalih bukan jodohnya orang mengatakan perceraian itu perlu. Allah membenci perceraian, berarti Allah tidak akan mempertemukan Si A dan Si B sehingga ia nikah dan pada akhirnya hanya akan cerai. tentu semua itu karena manusianya. ingat apapun yang kita perbuat pasti akan ada balasanya.
dengan memahami hal diatas, maka jangan terlalu berpatokan tentang jodoh, sekarang kita fikirkan kita sudah diberi jodoh terbaik, maka bersikaplah terbaik kepada orang yang kamu sayangi, niscaya Allah akan melihat usahamu sebagai do’a, dan semoga yang kau jaga dan kau sayangi itu adalah jodohmu, janganlah kau berkecil hati dengan menganggap kita tidak sederajat dengan seseorang, ingat jika Allah menghendaki maka apapun bisa. jangan ada kata putus asa dan bersemangatlah untuk meraih sukses.

Rabu, 24 Agustus 2016

'Bidadari', Tokoh fiktif bentukan Fikiran Manusia

Bidadari, vidhyadharī (sangkerta) atau aspera menurut kepercayaan hindu dan islam adalah makhluk berwujud manusia berjenis kelamin perempuan yang tinggal di kahyangan atau syurga. Dalam kepercayaan hindu, bidadari atau juga disebut oleh masyarakat bali widyadari atau dedari, dan dalam bahasa jawa disebut widodaren. Penggambaran bidadari sering dikaitkan dengan wanita yang sangat sempurna, berparas cantik dan memiliki aura yang magis sehingga siapapun memimpikan untuk bisa bertemu denganya.

Namun dalam konteks masa kini, bidadari mengalami pergeseran makna, meskipun kata sempurna masih menjadi identitasnya, namun kriteria untuk kesempurnaan itu relatif, bukanlagi faktual dan terukur. Bidadari adalah manusia paling sempurna, sehingga menumbuhkan cinta seorang pujangga kepadanya. Ketika bidadari itu sudah menjadi sang empunya pemilik hati, maka apapun keadaanya tetap saja dia adalah sosok yang sempurna.

Nyataanya ada hal yang sangat mendasar mengenai hal itu, bahwa kesempurnaan itu hanyalah akuan pribadi, penilaian relatif yang masing-masing orang memiliki definisi dan kriteria tersendiri untuk menentukan sebuah kesempurnaan. Rasa ingin seorang lelaki kepada seorang wanita sehingga ia mengikrarkan cinta kepadanya, adalah awal pembentukan bidadari sebagai tokoh fiktif. 

Dalam konteks yang sama, penganugrahan kata sempurna kepada kekasihnya adalah cara untuk dia mendapat simpati, media untuk membuat dia senang. dari fikiran-fikaran itulah seorang wanita biasa akan disebut sebagai bidadari. Padahal mungkin dimata orang lain, bidadari yang kita sebut hanyalah wanita biasa.

Bidadari dalam hakikat aslinya seperti putihnya mawar ditengah putih ilalang, memang sama-sama putih, namun mawar teteap jauh lebih berharga, sampai-sampai duripun mengabdikan dirinya untuk selalu menjaga keharumanya. Mawar diantara ilalang adalah mutlak berbeda dan lebih bernilai, tidak seperti apa yang kita sebut bidadari dalam kehidupan dunia, sangat relatif dan tak terukur.

Wahai wanita yang sedang menjadi bidadari atas empunya, ketahuilah jikapun kau memang sempurna hingga dinisbatkan sebagai bidadari, sesungguhnya gelar itu hanyalah berada diantara rasa ingin dan harapan seseorang atas dirimu, ketika dua hal itu sudah tak lagi ada, engkau kembali menjadi wanita bisa yang tak dipuja, pun jikapun tetap dipuja pastilah ada rasa ingin dan harapan orang lain atas dirimu.

Mari kita cermati dan akui, Bidadari yang ada didunia ini, tak lain hanyalah boneka yang kita jadikan sebagai hiasan dinding dari rasa ingin kita.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Keteraturan, bukan Kebetulan

Sebuah kejadian biasanya terbentuk dari beberapa tokoh, latar belakang, yang bertemu pada satu titik waktu yang sama. Kejadian merangkai apa yang belum pernah terjadi, atau sudah terjadi dalam alam lain 'Djavu' atau dalam bahasa lain adalah sebuah perjalanan ruhwan dalam dimensi yang berbeda, dan akan teringat saat kita menemui kejadian yang sama dalam dimensi dunia yang nyata.

Dalam pembentukan kejadian seringkali kita menganggapnya sebagai kebetulan, misal disaat yang sama kita bertemu dengan seseorang yang telah kita kenal. Atauapun awal dari perkenalan yang sering disebut kebetulan. Namun apakah kebetulan itu ada?

Dunia ini sebanranya tidak mengenal kebetulan, karena semua sudah diatur oleh sang maha Pengatur, runtuhnya daun dari ujung rantingpun tidak akan terjadi melainkan karena sudah diatur untuk jatuh dan digantikan dengan daun yang baru. Jatuhnya daun memang memiliki alasan ilmiah, seperti mengeringnya dahan dan tertiup angin, namun proses tumbuhnya tunas sampai ia mengering adalah proses keteraturan yang sangat luar biasa, bagaimana sebuah daun yang bernafas dan menghasilkan oksigen lalu lambat laun ia akan mengering dan datanglah angin yang menjadi sebab akhir jatuhnya daun, itu adalah rangkaian harmoni kehidupan yang sangat kompleks.

Bagitupun munculnya mentari dipagihari, yang selalu menepati janji untuk menyinari pagi, lalu ia berangsur naik dan berujung tenggelam di ufuk barat, dan dengan keteraturanya ia pancarkan sinar dalam gelapnya malam, sehingga sang bulanpun memendarkan cahaya putih nan anggun. Semua itu adalah keteraturan, bukan hal yang kebetulan.

Semua yang kita alami didunia ini, semuanya sudah teratur dengan baik, pertemuan dan perpisahan layaknya siang dan malam, semuanya sudah diatur. Jangan pernah menghawatirkan sesuatu yang memang sudah ada aturanya, jangan sampai kita terlalu sibuk membuat aturan sendiri, padahal apa yang kita fikirkanpun pada dasarnya bagian dari keteraturan itu sendiri.

Keteraturan memiliki hukum tarik menarik yang sangat kuat, dimana kita akan bertemu  seseorang dengan pemikiran yang sama, identik, atau serupa. Seperti pertemuan pasir dan air laut yang membentuk pantai, keduanya berbeda jenis namun berada pada satu frekuensi yang sama. Pelangipun adalah perwujudan dari keteraturan yang sangat indah, dimana rintik hujan yang menetes dengan teratur lalu sinar mentari terbias olehnya sehingga memendarkan warna warni yang terlihat begitu indah.

Begitupun dengan jodoh, kita akan lelah dengan pencarianya, padahal andai saja kita berjuang mati-matian, namun keteraturan belum menemukan kita dengan jodoh kita, maka akan tetap tidak bertemu. Usaha memang harus, namun usaha juga perlu keyakinan, keyakinan juga harus terukur, itulah keteraturan. Jadi pertemuan kita dengan seseorang bukan karena adanya kebetulan, namun mutlak karena keteraturan.

Jumat, 19 Agustus 2016

ketika Jin kalah oleh Manusia dalam perebutan Tahta sebagai Syetan

Semesta adalah makhluk, manusia, tumbuhan, jin, waktu, rasa, angin, cinta, termasuk malaikat, semuanya adalah makhluk. Manusia dianggap ciptaan paling sempurna, dengan adanya nafsu dan akal. Manusia membentuk koloni, kerena memang sifat dasar manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia membentuk masyarakat, berbudaya dan beragama. Dengan fikiran dan nafsunya, manusia menciptakan kedamaian menurut versinya masing-masing. 

Seperti halnya dongeng, kedamaian manusia juga memiliki tokoh antagonis yang sangat menonjol. Tokoh ini bak inti dari sebuah kisah, selalu menjadi buah bibir dalam segala hal. Tokoh ini dikenal dengan nama syetan. Syetan sering digambarkan sebagai makhluk astral yang berwujud seram dengan perangai buruk, memiliki sifat dasar jahat dan menyesatkan, sangat menyukai tempat yang sunyi, gelap, dan kotor. 

Namun apakah benar, syetan adalah satu-satunya tokoh antagonis dalam tatanan budaya manusia. Padahal banyak sekali manusia dengan manusia lainya berselisih, bertengkar, bahkan saling membunuh. Islam menyebut syetan itu berasal dari Jin dan Manusia, jika demikian memang syetan adalah tokoh tunggal yang selalu menjadi musuh kedamaian manusia. Tapi perlu diingat, syetan dalam hal ini adalah transformasi dari perwujudan Jin dan Manusia. Jadi bukan hanya makhluk astral, manusia itu sendiri jika berperangai buruk, suka menghasut, perilakunya menjurus kepada hal yang tidak baik, dia juga syetan.

Syetan selalu mengganggu keharmonisan manusia, dia menghasut, dan mengajarkan kemarahan. Namun dalam konteks yang lebih tinggi, Peranan syetan yang disandang Jin mulai terkikis. Manusia sudah lebih maju untuk menjadi syetan. Buktinya saat semua syetan dari bangsa jin dikurung dan tidak bisa mengganggu manusia, Manusia itu sendiri sudah dengan fasih melakukan kejahatan. Bahkan setelah syetan dari bangsa jin keluar dari penjara, mereka tetap bingung, sebagian besar pekerjaanya sudah diambil alih oleh manusia. 

Manusia sudah terlalu pandai, tanpa dikomando oleh Jin sudah berbuat jahat dulu. Hal ini adalah bukti bahwa Manusia telah Menang dalam Perebutan Tahta sebagai Syetan. Syetan dari bangsa jin tak pernah mengajarkan untuk menjahati sesama syetan, namun Syetan dari bangsa manusia, tak kenal dia itu manusia sejati ataupun syetan, tetap saja mereka bertindak jahat. Manusia sebagai syetan sudah sangat merajai. 

Kekerasan dalam rumah tangga, pembunuhan orang-orang terkasih, penganiayaan dan sebagainya, itu adalah wujud betapa kejinya Syetan dari golongan manusia, belenggu agama sudah lepas, penahan normapun sudah luluh lantak, sehingga kekerasan dan kekejaman merajalela. Sekali lagi Jin telah kalah oleh Manusia dalam perebutan tahta sebagai Syetan.

Rabu, 29 Juni 2016

Benarkah pacaran itu ‘Benar’ ?



Pacaran secara kebahasaan adalah proses mengenal antara dua insan manusia yang biasanya dalam tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga atau yang biasa disebut pernikahan. Dalam konteks lain, upaya perkenalan atau silaturahim untuk mencari jodoh disebut ta’aruf. Secara kebahasaan keduanya memiliki konsep dasar yang sama, yaitu media perkenalan untuk mencari jodoh. Pacaran secara harfiah atau kata sebagaimana aslinya, bisa disebut juga arti yang paling mendasar (leksial) adalah sesuatu hal yang benar dan dapat dibenarkan.

Kebenaran pacaran secara leksial juga tergantung dari sisi budaya, agama dan sosial. Dari sisi ini ta’arufpun masuk dalam katagori pacaran. Namun akan sangat berbeda jika pacaran didefinisikan dengan kebiasaan sekarang ini,  dimana pacaran sudah tidak lagi dimaknai secara harfiah, budaya-budaya negatif sudah memoles pacaran sehingga muncul paradigma baru bahwa pacaran adalah hubungan antara dua orang dengan alasan saling mencintai untuk mencapai kebahagiaan dengan  cara-cara yang sudah tidak lagi mengindahkan norma agama dan sosial. 

Munculnya paradigma baru mengenai pacaran, menjadi jurang pemisah antara pacaran secara harfiah (ta’aruf) dengan pacaran dalam konteks yang ada sekarang. Karena pada praktiknya, justru budaya-budaya negatiflah yang lebih ditonjolkan, yang lebih menyimpang lagi, tak ada sedikitpun kesiapan untuk nikah, sehingga alasan pacaran bukan lagi sebagai perkenalan sebelum melanjut ke jenjang pernikahan, namun hanya sebagai pemuas keinginan saja. 

Status Pacaran itu aksioma, sesuatu yang tidak bisa dibuktikan benar salahnya, tidak seperti pernikahan yang bisa dibuktikan dan tidak terbantahkan (dogma). Pacaran itu hanya hubungan akuan, yang dianggap mengikat, sehingga hubungan itu menjadi penghapus batasan-batasan norma kesusilaan, pelakunya seolah-olah sudah memiliki legalitas untuk bertemu tanpa ditemani mukhrim bahkan melakukan sesuatu hal yang hanya dilegalkan oleh pasangan suami istri yang sah menurut norma hukum, agama ataupun sosial.

Dalam situasi kecarutmarutan datanglah idiom pacaran syar’i, seolah ingin menentang sisi gelap sebuah hubungan ‘pacaran’ dan menyatakan diri bahwa pacaran model ini adalah benar. Memang selalu ada pembenaran dari setiap apa yang kita lakukan, itulah fitrah manusia yang selalu bereaksi terhadap sesuatu ‘Emosi’.  Sehingga munculah pacaran syar’i, memang kalau dinilai dari makna harfiah pacaran syar’i itu benar dan dibenarkan, karena ini hanya bahasa lain dari taaruf, tapi kalau dalam praktiknya sudah menyimpang dari konsep taaruf, yaitu bertemunya seseorang dengan dihadiri wali atau mukhrim dengan niat untuk menikahi. Kalau ternyata keluar dari jalur itu, mau namanya sebagus apapun tetap saja tidak bisa dibenarkan.

Secara hukum agama sudah jelas Haram, namun masih saja banyak yang melanggarnya. Mari kita terbuka diri dan jujur, kenapa pacaran itu dilarang. Pacaran itu melahirkan emosi baru, yang biasa disebut Rindu, pun memunculkan karakter baru yang dikenal sebagai kesetiaan. Rindu inilah yang meracuni nalar manusia sehingga hari demi hari mengikis nuraninya sehingga berbuat melampaui batas. Rindu itu seperti bendungan tanpa celah, yang menumpuk jutaan kilo liter nafsu, semakin lama rasa ini teresonansi dan terbungkus oleh kata cinta, seolah-olah inilah bukti adanya cinta, sehingga hati ini mengebu-gebu dan tak kuasa menahanya. Padahal sejatinya inilah perusak tatanan cinta yang semestinya, jika cinta itu adalah benih padi yang dikaruniakan sang Pencipta untuk di semai dan ditanam dengan cara yang dianjurkan, rindu  dalam pacaran adalah hama yang sangat mematikan, memiliki wujud yang hampir sama dengan tanaman cinta yang sesungguhnya. Ketika bendungan rindu ini tertumpahkan, pertemuan menjadi sesuatu hal yang sangat mengindahkan, dan tanpa sadar batasan kebenaran telah dipertaruhkan.

Emosi selanjutnya diluapkan dalam bahasa Kesetiaan, seolah menjadi sebuah keharusan dalam sebuah hubungan pacaran. Kesetiaan adalah kecenderungan untuk tetap memegang komitment, menyatukan diri hanya kepada satu pasangan. Namun ketika kesetiaan dihadapkan dengan pacaran, justru perselingkuhanlah yang ada. Selingkuh dari tatanan nurani manusia, selingkuh dari sosial budaya, dan selingkuh dari aturan – aturan agama. Lantas dimana letak kebudayaan, sosial, dan agama jika dikorbankan dan diselingkuhi karena alasan kesetiaan terhadap pasangan? Serendah itukah agama dan tatananya sehingga dengan mudah kita abaikan dan memilih keindahan semu dalam pacaran?

Pacaranpun menumbuhkan kesenjangan yang tinggi, proses mengenal, dekat, dan bercerai sebagai pacar akan menimbulkan kesenjangan, atau minimal keengganan untuk bersilaturahim. Sekali lagi tatanan agama telah terselingkuhi karena sebab pacaran. Buih-buih keindahan cinta yang diagungkan menjadi awal kahirnya kebencian. Diakui ataupun tidak, inilah yang terjadi ditegah-tengah kehidupan bermasyarakt sekarang ini.

Tahukah sebenarnya apa yang dirasakan manusia ketika mencintai. Dia Akan mengatakan Aku Mencintaimu, padahal sebenarnya Aku Mencintaiku yang ada dalam dirimu. Coba renungi, ketika kita memperhatikan seseorang, sebenarnya bukan untuk membahagiakanya, kita hanya ingin membahagiakan kita sendiri dengan cara memperhatikan untuk diperhatikan. Ketika Kita mengajak pasangan kita makan, sebenarnya bukan untuk membahagiakan dia, melainkan untuk membahagiakan diri kita sendiri, meskipun dengan itu dia bahagia.  Dalam bahasa sederhananya, kita hanya pelampiasan pasangan kita, dan diapun hanya media pelampiasan kita sendiri. Dan untuk sebuah hubungan yang menjadi wadah pelampiasan, terlepas diri ini merasa bahagia dan benar, sudah tentu hubungan seperti ini tidaklah baik. 

Jikapun ada yang masin membenarkan pacaran, atau memang merasa apa yang dilakukanya itu benar. Dia itu diibaratkan seperti ikan yang hidup di air, ikan tak pernah merasa dirinya didalam air, sampai dia keluar dari air itu, dan merasakan yang sebenarnya, bahwa selama ini dia hidup didalam air. Dan air itulah kesalah-kesalahan dalam mengartikan sebuah pacaran. Terlepas menerima atau tidak, sepakat atau tidak, hukum ini berlaku seperti halnya hukum gravitasi, tak memandang siapapun, kalau jatuh pasti kebawah.