Bidadari, vidhyadharī (sangkerta) atau aspera menurut kepercayaan hindu dan islam adalah makhluk berwujud manusia berjenis kelamin perempuan yang tinggal di kahyangan atau syurga. Dalam kepercayaan hindu, bidadari atau juga disebut oleh masyarakat bali widyadari atau dedari, dan dalam bahasa jawa disebut widodaren. Penggambaran bidadari sering dikaitkan dengan wanita yang sangat sempurna, berparas cantik dan memiliki aura yang magis sehingga siapapun memimpikan untuk bisa bertemu denganya.
Namun dalam konteks masa kini, bidadari mengalami pergeseran makna, meskipun kata sempurna masih menjadi identitasnya, namun kriteria untuk kesempurnaan itu relatif, bukanlagi faktual dan terukur. Bidadari adalah manusia paling sempurna, sehingga menumbuhkan cinta seorang pujangga kepadanya. Ketika bidadari itu sudah menjadi sang empunya pemilik hati, maka apapun keadaanya tetap saja dia adalah sosok yang sempurna.
Nyataanya ada hal yang sangat mendasar mengenai hal itu, bahwa kesempurnaan itu hanyalah akuan pribadi, penilaian relatif yang masing-masing orang memiliki definisi dan kriteria tersendiri untuk menentukan sebuah kesempurnaan. Rasa ingin seorang lelaki kepada seorang wanita sehingga ia mengikrarkan cinta kepadanya, adalah awal pembentukan bidadari sebagai tokoh fiktif.
Dalam konteks yang sama, penganugrahan kata sempurna kepada kekasihnya adalah cara untuk dia mendapat simpati, media untuk membuat dia senang. dari fikiran-fikaran itulah seorang wanita biasa akan disebut sebagai bidadari. Padahal mungkin dimata orang lain, bidadari yang kita sebut hanyalah wanita biasa.
Bidadari dalam hakikat aslinya seperti putihnya mawar ditengah putih ilalang, memang sama-sama putih, namun mawar teteap jauh lebih berharga, sampai-sampai duripun mengabdikan dirinya untuk selalu menjaga keharumanya. Mawar diantara ilalang adalah mutlak berbeda dan lebih bernilai, tidak seperti apa yang kita sebut bidadari dalam kehidupan dunia, sangat relatif dan tak terukur.
Wahai wanita yang sedang menjadi bidadari atas empunya, ketahuilah jikapun kau memang sempurna hingga dinisbatkan sebagai bidadari, sesungguhnya gelar itu hanyalah berada diantara rasa ingin dan harapan seseorang atas dirimu, ketika dua hal itu sudah tak lagi ada, engkau kembali menjadi wanita bisa yang tak dipuja, pun jikapun tetap dipuja pastilah ada rasa ingin dan harapan orang lain atas dirimu.
Mari kita cermati dan akui, Bidadari yang ada didunia ini, tak lain hanyalah boneka yang kita jadikan sebagai hiasan dinding dari rasa ingin kita.
Bidadari dalam hakikat aslinya seperti putihnya mawar ditengah putih ilalang, memang sama-sama putih, namun mawar teteap jauh lebih berharga, sampai-sampai duripun mengabdikan dirinya untuk selalu menjaga keharumanya. Mawar diantara ilalang adalah mutlak berbeda dan lebih bernilai, tidak seperti apa yang kita sebut bidadari dalam kehidupan dunia, sangat relatif dan tak terukur.
Wahai wanita yang sedang menjadi bidadari atas empunya, ketahuilah jikapun kau memang sempurna hingga dinisbatkan sebagai bidadari, sesungguhnya gelar itu hanyalah berada diantara rasa ingin dan harapan seseorang atas dirimu, ketika dua hal itu sudah tak lagi ada, engkau kembali menjadi wanita bisa yang tak dipuja, pun jikapun tetap dipuja pastilah ada rasa ingin dan harapan orang lain atas dirimu.
Mari kita cermati dan akui, Bidadari yang ada didunia ini, tak lain hanyalah boneka yang kita jadikan sebagai hiasan dinding dari rasa ingin kita.