Rabu, 24 Agustus 2016

'Bidadari', Tokoh fiktif bentukan Fikiran Manusia

Bidadari, vidhyadharī (sangkerta) atau aspera menurut kepercayaan hindu dan islam adalah makhluk berwujud manusia berjenis kelamin perempuan yang tinggal di kahyangan atau syurga. Dalam kepercayaan hindu, bidadari atau juga disebut oleh masyarakat bali widyadari atau dedari, dan dalam bahasa jawa disebut widodaren. Penggambaran bidadari sering dikaitkan dengan wanita yang sangat sempurna, berparas cantik dan memiliki aura yang magis sehingga siapapun memimpikan untuk bisa bertemu denganya.

Namun dalam konteks masa kini, bidadari mengalami pergeseran makna, meskipun kata sempurna masih menjadi identitasnya, namun kriteria untuk kesempurnaan itu relatif, bukanlagi faktual dan terukur. Bidadari adalah manusia paling sempurna, sehingga menumbuhkan cinta seorang pujangga kepadanya. Ketika bidadari itu sudah menjadi sang empunya pemilik hati, maka apapun keadaanya tetap saja dia adalah sosok yang sempurna.

Nyataanya ada hal yang sangat mendasar mengenai hal itu, bahwa kesempurnaan itu hanyalah akuan pribadi, penilaian relatif yang masing-masing orang memiliki definisi dan kriteria tersendiri untuk menentukan sebuah kesempurnaan. Rasa ingin seorang lelaki kepada seorang wanita sehingga ia mengikrarkan cinta kepadanya, adalah awal pembentukan bidadari sebagai tokoh fiktif. 

Dalam konteks yang sama, penganugrahan kata sempurna kepada kekasihnya adalah cara untuk dia mendapat simpati, media untuk membuat dia senang. dari fikiran-fikaran itulah seorang wanita biasa akan disebut sebagai bidadari. Padahal mungkin dimata orang lain, bidadari yang kita sebut hanyalah wanita biasa.

Bidadari dalam hakikat aslinya seperti putihnya mawar ditengah putih ilalang, memang sama-sama putih, namun mawar teteap jauh lebih berharga, sampai-sampai duripun mengabdikan dirinya untuk selalu menjaga keharumanya. Mawar diantara ilalang adalah mutlak berbeda dan lebih bernilai, tidak seperti apa yang kita sebut bidadari dalam kehidupan dunia, sangat relatif dan tak terukur.

Wahai wanita yang sedang menjadi bidadari atas empunya, ketahuilah jikapun kau memang sempurna hingga dinisbatkan sebagai bidadari, sesungguhnya gelar itu hanyalah berada diantara rasa ingin dan harapan seseorang atas dirimu, ketika dua hal itu sudah tak lagi ada, engkau kembali menjadi wanita bisa yang tak dipuja, pun jikapun tetap dipuja pastilah ada rasa ingin dan harapan orang lain atas dirimu.

Mari kita cermati dan akui, Bidadari yang ada didunia ini, tak lain hanyalah boneka yang kita jadikan sebagai hiasan dinding dari rasa ingin kita.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Keteraturan, bukan Kebetulan

Sebuah kejadian biasanya terbentuk dari beberapa tokoh, latar belakang, yang bertemu pada satu titik waktu yang sama. Kejadian merangkai apa yang belum pernah terjadi, atau sudah terjadi dalam alam lain 'Djavu' atau dalam bahasa lain adalah sebuah perjalanan ruhwan dalam dimensi yang berbeda, dan akan teringat saat kita menemui kejadian yang sama dalam dimensi dunia yang nyata.

Dalam pembentukan kejadian seringkali kita menganggapnya sebagai kebetulan, misal disaat yang sama kita bertemu dengan seseorang yang telah kita kenal. Atauapun awal dari perkenalan yang sering disebut kebetulan. Namun apakah kebetulan itu ada?

Dunia ini sebanranya tidak mengenal kebetulan, karena semua sudah diatur oleh sang maha Pengatur, runtuhnya daun dari ujung rantingpun tidak akan terjadi melainkan karena sudah diatur untuk jatuh dan digantikan dengan daun yang baru. Jatuhnya daun memang memiliki alasan ilmiah, seperti mengeringnya dahan dan tertiup angin, namun proses tumbuhnya tunas sampai ia mengering adalah proses keteraturan yang sangat luar biasa, bagaimana sebuah daun yang bernafas dan menghasilkan oksigen lalu lambat laun ia akan mengering dan datanglah angin yang menjadi sebab akhir jatuhnya daun, itu adalah rangkaian harmoni kehidupan yang sangat kompleks.

Bagitupun munculnya mentari dipagihari, yang selalu menepati janji untuk menyinari pagi, lalu ia berangsur naik dan berujung tenggelam di ufuk barat, dan dengan keteraturanya ia pancarkan sinar dalam gelapnya malam, sehingga sang bulanpun memendarkan cahaya putih nan anggun. Semua itu adalah keteraturan, bukan hal yang kebetulan.

Semua yang kita alami didunia ini, semuanya sudah teratur dengan baik, pertemuan dan perpisahan layaknya siang dan malam, semuanya sudah diatur. Jangan pernah menghawatirkan sesuatu yang memang sudah ada aturanya, jangan sampai kita terlalu sibuk membuat aturan sendiri, padahal apa yang kita fikirkanpun pada dasarnya bagian dari keteraturan itu sendiri.

Keteraturan memiliki hukum tarik menarik yang sangat kuat, dimana kita akan bertemu  seseorang dengan pemikiran yang sama, identik, atau serupa. Seperti pertemuan pasir dan air laut yang membentuk pantai, keduanya berbeda jenis namun berada pada satu frekuensi yang sama. Pelangipun adalah perwujudan dari keteraturan yang sangat indah, dimana rintik hujan yang menetes dengan teratur lalu sinar mentari terbias olehnya sehingga memendarkan warna warni yang terlihat begitu indah.

Begitupun dengan jodoh, kita akan lelah dengan pencarianya, padahal andai saja kita berjuang mati-matian, namun keteraturan belum menemukan kita dengan jodoh kita, maka akan tetap tidak bertemu. Usaha memang harus, namun usaha juga perlu keyakinan, keyakinan juga harus terukur, itulah keteraturan. Jadi pertemuan kita dengan seseorang bukan karena adanya kebetulan, namun mutlak karena keteraturan.

Jumat, 19 Agustus 2016

ketika Jin kalah oleh Manusia dalam perebutan Tahta sebagai Syetan

Semesta adalah makhluk, manusia, tumbuhan, jin, waktu, rasa, angin, cinta, termasuk malaikat, semuanya adalah makhluk. Manusia dianggap ciptaan paling sempurna, dengan adanya nafsu dan akal. Manusia membentuk koloni, kerena memang sifat dasar manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia membentuk masyarakat, berbudaya dan beragama. Dengan fikiran dan nafsunya, manusia menciptakan kedamaian menurut versinya masing-masing. 

Seperti halnya dongeng, kedamaian manusia juga memiliki tokoh antagonis yang sangat menonjol. Tokoh ini bak inti dari sebuah kisah, selalu menjadi buah bibir dalam segala hal. Tokoh ini dikenal dengan nama syetan. Syetan sering digambarkan sebagai makhluk astral yang berwujud seram dengan perangai buruk, memiliki sifat dasar jahat dan menyesatkan, sangat menyukai tempat yang sunyi, gelap, dan kotor. 

Namun apakah benar, syetan adalah satu-satunya tokoh antagonis dalam tatanan budaya manusia. Padahal banyak sekali manusia dengan manusia lainya berselisih, bertengkar, bahkan saling membunuh. Islam menyebut syetan itu berasal dari Jin dan Manusia, jika demikian memang syetan adalah tokoh tunggal yang selalu menjadi musuh kedamaian manusia. Tapi perlu diingat, syetan dalam hal ini adalah transformasi dari perwujudan Jin dan Manusia. Jadi bukan hanya makhluk astral, manusia itu sendiri jika berperangai buruk, suka menghasut, perilakunya menjurus kepada hal yang tidak baik, dia juga syetan.

Syetan selalu mengganggu keharmonisan manusia, dia menghasut, dan mengajarkan kemarahan. Namun dalam konteks yang lebih tinggi, Peranan syetan yang disandang Jin mulai terkikis. Manusia sudah lebih maju untuk menjadi syetan. Buktinya saat semua syetan dari bangsa jin dikurung dan tidak bisa mengganggu manusia, Manusia itu sendiri sudah dengan fasih melakukan kejahatan. Bahkan setelah syetan dari bangsa jin keluar dari penjara, mereka tetap bingung, sebagian besar pekerjaanya sudah diambil alih oleh manusia. 

Manusia sudah terlalu pandai, tanpa dikomando oleh Jin sudah berbuat jahat dulu. Hal ini adalah bukti bahwa Manusia telah Menang dalam Perebutan Tahta sebagai Syetan. Syetan dari bangsa jin tak pernah mengajarkan untuk menjahati sesama syetan, namun Syetan dari bangsa manusia, tak kenal dia itu manusia sejati ataupun syetan, tetap saja mereka bertindak jahat. Manusia sebagai syetan sudah sangat merajai. 

Kekerasan dalam rumah tangga, pembunuhan orang-orang terkasih, penganiayaan dan sebagainya, itu adalah wujud betapa kejinya Syetan dari golongan manusia, belenggu agama sudah lepas, penahan normapun sudah luluh lantak, sehingga kekerasan dan kekejaman merajalela. Sekali lagi Jin telah kalah oleh Manusia dalam perebutan tahta sebagai Syetan.