Selasa, 28 Juni 2016

Cinta itu Bagian dari 'Emosi', Kenapa harus 'Emosi' karena Cinta.




Emosi adalah rasa, ternilai sebagai apa sangat tergantung dari yang merasakan. Emosi bukanlah sebutan dari rasa yang ternilai arogan, karena arogansi juga bagian dari Emosi. Emosi adalah kesatuan dari nilai-nilai pemikiran yang melebur dengan perasaan. Keduanya harus ada seperti pembentukan pantai dari air dan pasir. 

Sejujurnya, ketika menyebut, mendengar, dan mengangankan kata cinta, fikiran ini akan terbias kedalam lautan fikiran yang sangat dalam, dan itulah yang disebut Emosi. Secara definitif Emosi adalah perasaan yang intenst terhadap seseorang atau sesuatu, atau dalam bahasa yang lebih sederhana, Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Maka lahirlah bermacam-macam ungkapan rasa seperti, marah, senang, malu, takut, gelisah, rindu, dan salah satunya Cinta atau Kasih.
Kenapa judulnya cinta kok membahasnya emosi??, harap sabar, karena inilah pondasi supaya kita berfikir dalam jalur yang sama, meski tidak sepakat minimal kita bisa sedikit sepaham dalam artian memahami kita berada di jalur yang sama untuk memasukan Cinta kedalam Emosi, bukan lagi Menjadikan Cinta sebagai alasan untuk emosi. Hal ini sangat penting, karena apa yang akan dibahas tidak seperti apa yang ‘Terbiasa’ didengar atau di resonansikan ke kehidupan kita. Jikalau sampai kalimat ini Anda sama sekali tidak mau sepaham, STOP membacanya. Dan nyamankanlah jika memang ingin membaca tulisan ini. Namun sekali lagi bukan untuk mencari kata sepakat.

Semua emosi berasal dari limbik yang berada di batang otak, sistem limbik sangat dipengaruhi oleh kepribadian, dan biasanya akan lebih aktif pada orang-orang yang terkena depresi, terlebih saat dirinya menerima informasi negatif.  Secara tidak sadar, otak akan lebif fokus menerima informasi yang bersifat negatif dibanding informasi-informasi positif, sebagai contoh refleks ketika melihat hal yang kita takuti semisal hantu, jauh lebih cepat dibanding reaksi kita ketika meilhat atau bertemu dengan apa yang paling kita inginkan. Dan cinta bermain ditengah itu, antara reaksi positif dan negatif. 

Cinta atau kasih pada dasarnya adalah sama, yaitu ungkapan sebuah emosi, namun ketika kita gali lebih dalam lagi, emosi yang terlahir sebagai cinta pun memiliki definisi yang berbeda dan tergantung dari ktiteria cinta itu sendiri. Dalam konsep ini terbagilah cinta kedalam beberapa golongan, namun sekali lagi penggolonganyapun sangat dinamis tergantung dari sudut mana dan dengan konsep apa kita membaginya. 

Cinta sebagai Eros, adalah kasih yang menginginkan. Yaitu dorongan yang cenderung ke arah romantisme dan seksualitas, kasih yang bersyarat dengan adanya kebersamaan, ikatan-ikatan semu yang dimunculkan sebagai suatu ikatan yang dianggap dogma atau tak terbantah. Padahal itu hanyalah wujud dari rasa ingin. Contoh dorongan cinta seorang berlawanan jenis dan sebagainya.
Cinta sebagai Philia, yaitu rasa kasih yang ada diantara sudara,dan sahabat dan juga orangtua, meski ada juga yang memisahkan kasih kepada orang tua dg istilah storge atau ungkapan rasa kasih kodrati. Namun seringkali hanya didefinisikan sebagai philia saja, yang dalam bahasa sederhananya philia adalah rasa kasih yang terbebas dari dorongan rasa ingin saja, karena kasih ini tumbuh secara alamiah dan mengikat kuat.

Cinta sebagai Agape, adalah kasih yang paling tinggi kedudukanya, kasih yang bisa mengorbankan dirinya untuk yanf dikasihi, memberi dan menerima dalam konteks ketulusan. Kasih ini lebih kepada kasih Ciptaan kepada Penciptanya, namun bisa saja kasih ini dimiliki oleh pasangan hidup, dimana kasihnya kepada yang terkasihi membuat dirinya rela berkorban dengan tulus, namun agaknya akan sangat sulit dicapai.

 Lalu adalagi konsep Sakinah Mawaddah, Warahmah. Dalam konsep ini lebih kepada pencapaian dari sebuah kasih, yang pada dasarnya ini adalah kasih sebagai dogma, atau hal yang tidak bisa terbantahkan. Alasanya adalah, hubungan pernikahan adalah hubungan yang jelas dan tak terbantahkan, karena sudah melalui proses ijab qabul dan dihadiri saksi serta wali, dan konsep sakinah mawaddah warahmah adalah literatur bahasa yang dipakai setelah adanya pernikahan.
Sakinah adalah rasa kecenderungan, ketentraman, dan kedamaian. Inilah pencapaian pertama dari sebuah pernikahan, yaitu penghapus kehkawatiran- kekhawatiran seperti rasa kehilangan, rasa takut akan sanksi agama maupun sosial. Makanya timbulah idiom 'Selamat Menempuh Hidup Baru', karena memang pernikahan adalah proses trnasformasi atau metamorfosis kehidupan sehingga terbentuklah sakinah sebagai kehidupan baru yang menentramkan.

Mawaddah adalah kasih sayang,atau  perasaan cinta yang muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan jenisnya, atau muncul karena adanya sebab-sebab yang bercorak fisik, seperti kecantikan, ketampanan dan sebagainya. Dan setiap makhluk Allah kiranya di berikan sifat kasih sayang ini, dalam konteks ini kecenderungan sama dengan eros, namun sudah pada wadah yang sesuai.
Rahmah berasal dari bahasa Arab, yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih juga rezeki. Rahmah merupakan jenis cinta dan kasih sayang yang lembut, terpancar dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, melindungi yang di cintai tanpa pamrih (philia). 

Setelah tahu definisi cinta sebagai bagian dari Emosi (rasa secara koperhensif), makanya jangan sampai kita Emosi (reaksi negatif) karena cinta. Sehebat apapun kita memperjuangkan cinta, jika nyatanya tidak mendapat balasan, ataupun mendapat balasan namun berakhir dengan perpisahan, kita tidak boleh meluapkan reaksi negatif dengan menghadirkan kebencian, dendam, acuh dan reaksi negatif lainya. Doktrinlah diri ini, Bahwa Sehebat apapun kita dalam memperjuangkan rasa terhadap lawan jenis, harus juga disadari bahwa dia juga sudah berusaha dengan sangat besar untuk menerima kita, namun gagal, darisitulah lahir kata 'Penolakan'. 

Penolakan adalah ujung dari proses menerima dan tidak menerima, karena disaat seseorang datang ke kehidupan kita, tanpa kita sadari Emosi kita sedang bermain, entah reaksi posotif atau negatif yang akan diterima, itulah dogmatisme yang tidak bisa terbantahkan. Kepastian hanya mengenal kata 'Ya' dan 'Tidak', dan jika kita bermain diantara dua kata itu, bersiaplah untuk keadaan terburuk, bersiap untuk menampakan reaksi terbaik sebagai bentuk Emosi, dan bukan sebaliknya. 

"kekecawaan muncul ketika kita sangat mengharapkan sesuatu, namun tidak terwujud", Emosi adalah rasa yang menyeluruh, lahirkanlah Nilai yang baik dari Emosi itu. Jangan Sampai Emosi terkotak dalam sebuah Nilai Saja 'Amarah'. Karena Cinta bagian dari Emosi dan Janganlah Emosi 'Marah' karena Cinta.

Pustaka:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar