Emosi adalah rasa,
ternilai sebagai apa sangat tergantung dari yang merasakan. Emosi bukanlah
sebutan dari rasa yang ternilai arogan, karena arogansi juga bagian dari Emosi.
Emosi adalah kesatuan dari nilai-nilai pemikiran yang melebur dengan perasaan.
Keduanya harus ada seperti pembentukan pantai dari air dan pasir.
Sejujurnya, ketika
menyebut, mendengar, dan mengangankan kata cinta, fikiran ini akan terbias
kedalam lautan fikiran yang sangat dalam, dan itulah yang disebut Emosi. Secara
definitif Emosi adalah perasaan yang intenst terhadap seseorang atau sesuatu,
atau dalam bahasa yang lebih sederhana, Emosi adalah reaksi terhadap seseorang
atau kejadian. Maka lahirlah bermacam-macam ungkapan rasa seperti, marah,
senang, malu, takut, gelisah, rindu, dan salah satunya Cinta atau Kasih.
Kenapa judulnya
cinta kok membahasnya emosi??, harap sabar, karena inilah pondasi supaya kita
berfikir dalam jalur yang sama, meski tidak sepakat minimal kita bisa sedikit
sepaham dalam artian memahami kita berada di jalur yang sama untuk memasukan
Cinta kedalam Emosi, bukan lagi Menjadikan Cinta sebagai alasan untuk emosi.
Hal ini sangat penting, karena apa yang akan dibahas tidak seperti apa yang
‘Terbiasa’ didengar atau di resonansikan ke kehidupan kita. Jikalau sampai kalimat
ini Anda sama sekali tidak mau sepaham, STOP membacanya. Dan nyamankanlah jika
memang ingin membaca tulisan ini. Namun sekali lagi bukan untuk mencari kata
sepakat.
Semua emosi berasal
dari limbik yang berada di batang otak, sistem limbik sangat dipengaruhi oleh
kepribadian, dan biasanya akan lebih aktif pada orang-orang yang terkena
depresi, terlebih saat dirinya menerima informasi negatif. Secara tidak sadar, otak akan lebif fokus
menerima informasi yang bersifat negatif dibanding informasi-informasi positif,
sebagai contoh refleks ketika melihat hal yang kita takuti semisal hantu, jauh
lebih cepat dibanding reaksi kita ketika meilhat atau bertemu dengan apa yang
paling kita inginkan. Dan cinta bermain ditengah itu, antara reaksi positif dan
negatif.
Cinta atau kasih
pada dasarnya adalah sama, yaitu ungkapan sebuah emosi, namun ketika kita gali
lebih dalam lagi, emosi yang terlahir sebagai cinta pun memiliki definisi yang
berbeda dan tergantung dari ktiteria cinta itu sendiri. Dalam konsep ini
terbagilah cinta kedalam beberapa golongan, namun sekali lagi penggolonganyapun
sangat dinamis tergantung dari sudut mana dan dengan konsep apa kita
membaginya.
Cinta sebagai Eros,
adalah kasih yang menginginkan. Yaitu dorongan yang cenderung ke arah
romantisme dan seksualitas, kasih yang bersyarat dengan adanya kebersamaan,
ikatan-ikatan semu yang dimunculkan sebagai suatu ikatan yang dianggap dogma
atau tak terbantah. Padahal itu hanyalah wujud dari rasa ingin. Contoh dorongan
cinta seorang berlawanan jenis dan sebagainya.
Cinta sebagai
Philia, yaitu rasa kasih yang ada diantara sudara,dan sahabat dan juga
orangtua, meski ada juga yang memisahkan kasih kepada orang tua dg istilah
storge atau ungkapan rasa kasih kodrati. Namun seringkali hanya didefinisikan
sebagai philia saja, yang dalam bahasa sederhananya philia adalah rasa kasih
yang terbebas dari dorongan rasa ingin saja, karena kasih ini tumbuh secara
alamiah dan mengikat kuat.
Cinta sebagai
Agape, adalah kasih yang paling tinggi kedudukanya, kasih yang bisa mengorbankan
dirinya untuk yanf dikasihi, memberi dan menerima dalam konteks ketulusan.
Kasih ini lebih kepada kasih Ciptaan kepada Penciptanya, namun bisa saja kasih
ini dimiliki oleh pasangan hidup, dimana kasihnya kepada yang terkasihi membuat
dirinya rela berkorban dengan tulus, namun agaknya akan sangat sulit dicapai.
Lalu adalagi konsep Sakinah Mawaddah,
Warahmah. Dalam konsep ini lebih kepada pencapaian dari sebuah kasih, yang pada
dasarnya ini adalah kasih sebagai dogma, atau hal yang tidak bisa terbantahkan.
Alasanya adalah, hubungan pernikahan adalah hubungan yang jelas dan tak
terbantahkan, karena sudah melalui proses ijab qabul dan dihadiri saksi serta
wali, dan konsep sakinah mawaddah warahmah adalah literatur bahasa yang dipakai
setelah adanya pernikahan.
Sakinah adalah rasa
kecenderungan, ketentraman, dan kedamaian. Inilah pencapaian pertama dari
sebuah pernikahan, yaitu penghapus kehkawatiran- kekhawatiran seperti rasa
kehilangan, rasa takut akan sanksi agama maupun sosial. Makanya timbulah idiom
'Selamat Menempuh Hidup Baru', karena memang pernikahan adalah proses
trnasformasi atau metamorfosis kehidupan sehingga terbentuklah sakinah sebagai
kehidupan baru yang menentramkan.
Mawaddah adalah
kasih sayang,atau perasaan cinta yang
muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan jenisnya, atau muncul karena
adanya sebab-sebab yang bercorak fisik, seperti kecantikan, ketampanan dan
sebagainya. Dan setiap makhluk Allah kiranya di berikan sifat kasih sayang ini,
dalam konteks ini kecenderungan sama dengan eros, namun sudah pada wadah yang sesuai.
Rahmah berasal dari
bahasa Arab, yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih juga
rezeki. Rahmah merupakan jenis cinta dan kasih sayang yang lembut, terpancar
dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, melindungi yang di cintai tanpa
pamrih (philia).
Setelah tahu definisi cinta sebagai bagian dari Emosi (rasa secara
koperhensif), makanya jangan sampai kita Emosi (reaksi negatif) karena cinta.
Sehebat apapun kita memperjuangkan cinta, jika nyatanya tidak mendapat balasan,
ataupun mendapat balasan namun berakhir dengan perpisahan, kita tidak boleh
meluapkan reaksi negatif dengan menghadirkan kebencian, dendam, acuh dan reaksi
negatif lainya. Doktrinlah diri ini, Bahwa Sehebat apapun kita dalam
memperjuangkan rasa terhadap lawan jenis, harus juga disadari bahwa dia juga
sudah berusaha dengan sangat besar untuk menerima kita, namun gagal,
darisitulah lahir kata 'Penolakan'.
Penolakan adalah ujung dari proses menerima dan tidak menerima, karena
disaat seseorang datang ke kehidupan kita, tanpa kita sadari Emosi kita sedang
bermain, entah reaksi posotif atau negatif yang akan diterima, itulah
dogmatisme yang tidak bisa terbantahkan. Kepastian hanya mengenal kata 'Ya' dan
'Tidak', dan jika kita bermain diantara dua kata itu, bersiaplah untuk keadaan
terburuk, bersiap untuk menampakan reaksi terbaik sebagai bentuk Emosi, dan
bukan sebaliknya.
"kekecawaan muncul ketika kita sangat mengharapkan sesuatu, namun
tidak terwujud", Emosi adalah rasa yang menyeluruh, lahirkanlah Nilai yang
baik dari Emosi itu. Jangan Sampai Emosi terkotak dalam sebuah Nilai Saja
'Amarah'. Karena Cinta bagian dari Emosi dan Janganlah Emosi 'Marah' karena
Cinta.
Pustaka:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar