Rabu, 29 Juni 2016

Benarkah pacaran itu ‘Benar’ ?



Pacaran secara kebahasaan adalah proses mengenal antara dua insan manusia yang biasanya dalam tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga atau yang biasa disebut pernikahan. Dalam konteks lain, upaya perkenalan atau silaturahim untuk mencari jodoh disebut ta’aruf. Secara kebahasaan keduanya memiliki konsep dasar yang sama, yaitu media perkenalan untuk mencari jodoh. Pacaran secara harfiah atau kata sebagaimana aslinya, bisa disebut juga arti yang paling mendasar (leksial) adalah sesuatu hal yang benar dan dapat dibenarkan.

Kebenaran pacaran secara leksial juga tergantung dari sisi budaya, agama dan sosial. Dari sisi ini ta’arufpun masuk dalam katagori pacaran. Namun akan sangat berbeda jika pacaran didefinisikan dengan kebiasaan sekarang ini,  dimana pacaran sudah tidak lagi dimaknai secara harfiah, budaya-budaya negatif sudah memoles pacaran sehingga muncul paradigma baru bahwa pacaran adalah hubungan antara dua orang dengan alasan saling mencintai untuk mencapai kebahagiaan dengan  cara-cara yang sudah tidak lagi mengindahkan norma agama dan sosial. 

Munculnya paradigma baru mengenai pacaran, menjadi jurang pemisah antara pacaran secara harfiah (ta’aruf) dengan pacaran dalam konteks yang ada sekarang. Karena pada praktiknya, justru budaya-budaya negatiflah yang lebih ditonjolkan, yang lebih menyimpang lagi, tak ada sedikitpun kesiapan untuk nikah, sehingga alasan pacaran bukan lagi sebagai perkenalan sebelum melanjut ke jenjang pernikahan, namun hanya sebagai pemuas keinginan saja. 

Status Pacaran itu aksioma, sesuatu yang tidak bisa dibuktikan benar salahnya, tidak seperti pernikahan yang bisa dibuktikan dan tidak terbantahkan (dogma). Pacaran itu hanya hubungan akuan, yang dianggap mengikat, sehingga hubungan itu menjadi penghapus batasan-batasan norma kesusilaan, pelakunya seolah-olah sudah memiliki legalitas untuk bertemu tanpa ditemani mukhrim bahkan melakukan sesuatu hal yang hanya dilegalkan oleh pasangan suami istri yang sah menurut norma hukum, agama ataupun sosial.

Dalam situasi kecarutmarutan datanglah idiom pacaran syar’i, seolah ingin menentang sisi gelap sebuah hubungan ‘pacaran’ dan menyatakan diri bahwa pacaran model ini adalah benar. Memang selalu ada pembenaran dari setiap apa yang kita lakukan, itulah fitrah manusia yang selalu bereaksi terhadap sesuatu ‘Emosi’.  Sehingga munculah pacaran syar’i, memang kalau dinilai dari makna harfiah pacaran syar’i itu benar dan dibenarkan, karena ini hanya bahasa lain dari taaruf, tapi kalau dalam praktiknya sudah menyimpang dari konsep taaruf, yaitu bertemunya seseorang dengan dihadiri wali atau mukhrim dengan niat untuk menikahi. Kalau ternyata keluar dari jalur itu, mau namanya sebagus apapun tetap saja tidak bisa dibenarkan.

Secara hukum agama sudah jelas Haram, namun masih saja banyak yang melanggarnya. Mari kita terbuka diri dan jujur, kenapa pacaran itu dilarang. Pacaran itu melahirkan emosi baru, yang biasa disebut Rindu, pun memunculkan karakter baru yang dikenal sebagai kesetiaan. Rindu inilah yang meracuni nalar manusia sehingga hari demi hari mengikis nuraninya sehingga berbuat melampaui batas. Rindu itu seperti bendungan tanpa celah, yang menumpuk jutaan kilo liter nafsu, semakin lama rasa ini teresonansi dan terbungkus oleh kata cinta, seolah-olah inilah bukti adanya cinta, sehingga hati ini mengebu-gebu dan tak kuasa menahanya. Padahal sejatinya inilah perusak tatanan cinta yang semestinya, jika cinta itu adalah benih padi yang dikaruniakan sang Pencipta untuk di semai dan ditanam dengan cara yang dianjurkan, rindu  dalam pacaran adalah hama yang sangat mematikan, memiliki wujud yang hampir sama dengan tanaman cinta yang sesungguhnya. Ketika bendungan rindu ini tertumpahkan, pertemuan menjadi sesuatu hal yang sangat mengindahkan, dan tanpa sadar batasan kebenaran telah dipertaruhkan.

Emosi selanjutnya diluapkan dalam bahasa Kesetiaan, seolah menjadi sebuah keharusan dalam sebuah hubungan pacaran. Kesetiaan adalah kecenderungan untuk tetap memegang komitment, menyatukan diri hanya kepada satu pasangan. Namun ketika kesetiaan dihadapkan dengan pacaran, justru perselingkuhanlah yang ada. Selingkuh dari tatanan nurani manusia, selingkuh dari sosial budaya, dan selingkuh dari aturan – aturan agama. Lantas dimana letak kebudayaan, sosial, dan agama jika dikorbankan dan diselingkuhi karena alasan kesetiaan terhadap pasangan? Serendah itukah agama dan tatananya sehingga dengan mudah kita abaikan dan memilih keindahan semu dalam pacaran?

Pacaranpun menumbuhkan kesenjangan yang tinggi, proses mengenal, dekat, dan bercerai sebagai pacar akan menimbulkan kesenjangan, atau minimal keengganan untuk bersilaturahim. Sekali lagi tatanan agama telah terselingkuhi karena sebab pacaran. Buih-buih keindahan cinta yang diagungkan menjadi awal kahirnya kebencian. Diakui ataupun tidak, inilah yang terjadi ditegah-tengah kehidupan bermasyarakt sekarang ini.

Tahukah sebenarnya apa yang dirasakan manusia ketika mencintai. Dia Akan mengatakan Aku Mencintaimu, padahal sebenarnya Aku Mencintaiku yang ada dalam dirimu. Coba renungi, ketika kita memperhatikan seseorang, sebenarnya bukan untuk membahagiakanya, kita hanya ingin membahagiakan kita sendiri dengan cara memperhatikan untuk diperhatikan. Ketika Kita mengajak pasangan kita makan, sebenarnya bukan untuk membahagiakan dia, melainkan untuk membahagiakan diri kita sendiri, meskipun dengan itu dia bahagia.  Dalam bahasa sederhananya, kita hanya pelampiasan pasangan kita, dan diapun hanya media pelampiasan kita sendiri. Dan untuk sebuah hubungan yang menjadi wadah pelampiasan, terlepas diri ini merasa bahagia dan benar, sudah tentu hubungan seperti ini tidaklah baik. 

Jikapun ada yang masin membenarkan pacaran, atau memang merasa apa yang dilakukanya itu benar. Dia itu diibaratkan seperti ikan yang hidup di air, ikan tak pernah merasa dirinya didalam air, sampai dia keluar dari air itu, dan merasakan yang sebenarnya, bahwa selama ini dia hidup didalam air. Dan air itulah kesalah-kesalahan dalam mengartikan sebuah pacaran. Terlepas menerima atau tidak, sepakat atau tidak, hukum ini berlaku seperti halnya hukum gravitasi, tak memandang siapapun, kalau jatuh pasti kebawah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar