Pacaran secara kebahasaan adalah
proses mengenal antara dua insan manusia yang biasanya dalam tahap pencarian
kecocokan menuju kehidupan berkeluarga atau yang biasa disebut pernikahan. Dalam
konteks lain, upaya perkenalan atau silaturahim untuk mencari jodoh disebut
ta’aruf. Secara kebahasaan keduanya memiliki konsep dasar yang sama, yaitu
media perkenalan untuk mencari jodoh. Pacaran secara harfiah atau kata
sebagaimana aslinya, bisa disebut juga arti yang paling mendasar (leksial)
adalah sesuatu hal yang benar dan dapat dibenarkan.
Kebenaran pacaran secara leksial
juga tergantung dari sisi budaya, agama dan sosial. Dari sisi ini ta’arufpun
masuk dalam katagori pacaran. Namun akan sangat berbeda jika pacaran
didefinisikan dengan kebiasaan sekarang ini, dimana pacaran sudah tidak lagi dimaknai
secara harfiah, budaya-budaya negatif sudah memoles pacaran sehingga muncul
paradigma baru bahwa pacaran adalah hubungan antara dua orang dengan alasan
saling mencintai untuk mencapai kebahagiaan dengan cara-cara yang sudah tidak lagi mengindahkan
norma agama dan sosial.
Munculnya paradigma baru mengenai
pacaran, menjadi jurang pemisah antara pacaran secara harfiah (ta’aruf) dengan
pacaran dalam konteks yang ada sekarang. Karena pada praktiknya, justru
budaya-budaya negatiflah yang lebih ditonjolkan, yang lebih menyimpang lagi,
tak ada sedikitpun kesiapan untuk nikah, sehingga alasan pacaran bukan lagi
sebagai perkenalan sebelum melanjut ke jenjang pernikahan, namun hanya sebagai
pemuas keinginan saja.
Status Pacaran itu aksioma,
sesuatu yang tidak bisa dibuktikan benar salahnya, tidak seperti pernikahan
yang bisa dibuktikan dan tidak terbantahkan (dogma). Pacaran itu hanya hubungan
akuan, yang dianggap mengikat, sehingga hubungan itu menjadi penghapus
batasan-batasan norma kesusilaan, pelakunya seolah-olah sudah memiliki
legalitas untuk bertemu tanpa ditemani mukhrim bahkan melakukan sesuatu hal
yang hanya dilegalkan oleh pasangan suami istri yang sah menurut norma hukum,
agama ataupun sosial.
Dalam situasi kecarutmarutan
datanglah idiom pacaran syar’i, seolah ingin menentang sisi gelap sebuah
hubungan ‘pacaran’ dan menyatakan diri bahwa pacaran model ini adalah benar.
Memang selalu ada pembenaran dari setiap apa yang kita lakukan, itulah fitrah
manusia yang selalu bereaksi terhadap sesuatu ‘Emosi’. Sehingga munculah pacaran syar’i, memang kalau
dinilai dari makna harfiah pacaran syar’i itu benar dan dibenarkan, karena ini
hanya bahasa lain dari taaruf, tapi kalau dalam praktiknya sudah menyimpang
dari konsep taaruf, yaitu bertemunya seseorang dengan dihadiri wali atau
mukhrim dengan niat untuk menikahi. Kalau ternyata keluar dari jalur itu, mau
namanya sebagus apapun tetap saja tidak bisa dibenarkan.
Secara hukum agama sudah jelas
Haram, namun masih saja banyak yang melanggarnya. Mari kita terbuka diri dan
jujur, kenapa pacaran itu dilarang. Pacaran itu melahirkan emosi baru, yang
biasa disebut Rindu, pun memunculkan karakter baru yang dikenal sebagai
kesetiaan. Rindu inilah yang meracuni nalar manusia sehingga hari demi hari
mengikis nuraninya sehingga berbuat melampaui batas. Rindu itu seperti
bendungan tanpa celah, yang menumpuk jutaan kilo liter nafsu, semakin lama rasa
ini teresonansi dan terbungkus oleh kata cinta, seolah-olah inilah bukti adanya
cinta, sehingga hati ini mengebu-gebu dan tak kuasa menahanya. Padahal
sejatinya inilah perusak tatanan cinta yang semestinya, jika cinta itu adalah
benih padi yang dikaruniakan sang Pencipta untuk di semai dan ditanam dengan
cara yang dianjurkan, rindu dalam
pacaran adalah hama yang sangat mematikan, memiliki wujud yang hampir sama
dengan tanaman cinta yang sesungguhnya. Ketika bendungan rindu ini
tertumpahkan, pertemuan menjadi sesuatu hal yang sangat mengindahkan, dan tanpa
sadar batasan kebenaran telah dipertaruhkan.
Emosi selanjutnya diluapkan dalam
bahasa Kesetiaan, seolah menjadi sebuah keharusan dalam sebuah hubungan
pacaran. Kesetiaan adalah kecenderungan untuk tetap memegang komitment,
menyatukan diri hanya kepada satu pasangan. Namun ketika kesetiaan dihadapkan
dengan pacaran, justru perselingkuhanlah yang ada. Selingkuh dari tatanan
nurani manusia, selingkuh dari sosial budaya, dan selingkuh dari aturan –
aturan agama. Lantas dimana letak kebudayaan, sosial, dan agama jika
dikorbankan dan diselingkuhi karena alasan kesetiaan terhadap pasangan?
Serendah itukah agama dan tatananya sehingga dengan mudah kita abaikan dan
memilih keindahan semu dalam pacaran?
Pacaranpun menumbuhkan
kesenjangan yang tinggi, proses mengenal, dekat, dan bercerai sebagai pacar
akan menimbulkan kesenjangan, atau minimal keengganan untuk bersilaturahim.
Sekali lagi tatanan agama telah terselingkuhi karena sebab pacaran. Buih-buih
keindahan cinta yang diagungkan menjadi awal kahirnya kebencian. Diakui ataupun
tidak, inilah yang terjadi ditegah-tengah kehidupan bermasyarakt sekarang ini.
Tahukah sebenarnya apa yang
dirasakan manusia ketika mencintai. Dia Akan mengatakan Aku Mencintaimu,
padahal sebenarnya Aku Mencintaiku yang ada dalam dirimu. Coba renungi, ketika
kita memperhatikan seseorang, sebenarnya bukan untuk membahagiakanya, kita
hanya ingin membahagiakan kita sendiri dengan cara memperhatikan untuk
diperhatikan. Ketika Kita mengajak pasangan kita makan, sebenarnya bukan untuk
membahagiakan dia, melainkan untuk membahagiakan diri kita sendiri, meskipun
dengan itu dia bahagia. Dalam bahasa
sederhananya, kita hanya pelampiasan pasangan kita, dan diapun hanya media
pelampiasan kita sendiri. Dan untuk sebuah hubungan yang menjadi wadah
pelampiasan, terlepas diri ini merasa bahagia dan benar, sudah tentu hubungan
seperti ini tidaklah baik.
Jikapun ada yang masin
membenarkan pacaran, atau memang merasa apa yang dilakukanya itu benar. Dia itu
diibaratkan seperti ikan yang hidup di air, ikan tak pernah merasa dirinya
didalam air, sampai dia keluar dari air itu, dan merasakan yang sebenarnya,
bahwa selama ini dia hidup didalam air. Dan air itulah kesalah-kesalahan dalam
mengartikan sebuah pacaran. Terlepas menerima atau tidak, sepakat atau tidak,
hukum ini berlaku seperti halnya hukum gravitasi, tak memandang siapapun, kalau
jatuh pasti kebawah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar