Semesta adalah makhluk, manusia, tumbuhan, jin, waktu, rasa, angin, cinta, termasuk malaikat, semuanya adalah makhluk. Manusia dianggap ciptaan paling sempurna, dengan adanya nafsu dan akal. Manusia membentuk koloni, kerena memang sifat dasar manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia membentuk masyarakat, berbudaya dan beragama. Dengan fikiran dan nafsunya, manusia menciptakan kedamaian menurut versinya masing-masing.
Seperti halnya dongeng, kedamaian manusia juga memiliki tokoh antagonis yang sangat menonjol. Tokoh ini bak inti dari sebuah kisah, selalu menjadi buah bibir dalam segala hal. Tokoh ini dikenal dengan nama syetan. Syetan sering digambarkan sebagai makhluk astral yang berwujud seram dengan perangai buruk, memiliki sifat dasar jahat dan menyesatkan, sangat menyukai tempat yang sunyi, gelap, dan kotor.
Namun apakah benar, syetan adalah satu-satunya tokoh antagonis dalam tatanan budaya manusia. Padahal banyak sekali manusia dengan manusia lainya berselisih, bertengkar, bahkan saling membunuh. Islam menyebut syetan itu berasal dari Jin dan Manusia, jika demikian memang syetan adalah tokoh tunggal yang selalu menjadi musuh kedamaian manusia. Tapi perlu diingat, syetan dalam hal ini adalah transformasi dari perwujudan Jin dan Manusia. Jadi bukan hanya makhluk astral, manusia itu sendiri jika berperangai buruk, suka menghasut, perilakunya menjurus kepada hal yang tidak baik, dia juga syetan.
Syetan selalu mengganggu keharmonisan manusia, dia menghasut, dan mengajarkan kemarahan. Namun dalam konteks yang lebih tinggi, Peranan syetan yang disandang Jin mulai terkikis. Manusia sudah lebih maju untuk menjadi syetan. Buktinya saat semua syetan dari bangsa jin dikurung dan tidak bisa mengganggu manusia, Manusia itu sendiri sudah dengan fasih melakukan kejahatan. Bahkan setelah syetan dari bangsa jin keluar dari penjara, mereka tetap bingung, sebagian besar pekerjaanya sudah diambil alih oleh manusia.
Manusia sudah terlalu pandai, tanpa dikomando oleh Jin sudah berbuat jahat dulu. Hal ini adalah bukti bahwa Manusia telah Menang dalam Perebutan Tahta sebagai Syetan. Syetan dari bangsa jin tak pernah mengajarkan untuk menjahati sesama syetan, namun Syetan dari bangsa manusia, tak kenal dia itu manusia sejati ataupun syetan, tetap saja mereka bertindak jahat. Manusia sebagai syetan sudah sangat merajai.
Kekerasan dalam rumah tangga, pembunuhan orang-orang terkasih, penganiayaan dan sebagainya, itu adalah wujud betapa kejinya Syetan dari golongan manusia, belenggu agama sudah lepas, penahan normapun sudah luluh lantak, sehingga kekerasan dan kekejaman merajalela. Sekali lagi Jin telah kalah oleh Manusia dalam perebutan tahta sebagai Syetan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar